Kekurangan belajar online pasti kita rasakan beberapa bulan ini. Kita tak perlu lagi membahas bagaimana anak-anak terpaksa sekolah dari rumah. Belajar dari rumah atau BDR atau istilah lain PJJ mau tidak mau harus kita jalani dengan rela hati.  Jika dilihat dari peristiwanya, maka belajar online kali ini ada unsur keterpaksaan (oleh keadaan) bukan sepenuhnya tuntutan kemajuan teknologi. Nah, rasanya wajar kalau kemudian saya pilih menyoroti kekurangan belajar mandiri di rumah ini.

Kondisi Sistem Belajar Online yang Ada

Keadaan yang berbeda adalah dimana anak yang terbiasa berbaur dengan teman sebagai bentuk group belajar dengan pengajar tatap muka langsung. Saat ini anak belajar sendiri, meskipun pada pelaksanaannya ada pendampingan, entah oleh orang tua, kerabat, saudara atau bahkan pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah. Kenyataan yang ada adalah anak dipaksa mencari tahu sendiri jawaban dari kebingungan yang dia alami.

Materi dari guru disampaikan dengan berbagai bentuk dan cara. Ada yang dengan cara membuat video pembelajaran lalu diunggah di platform berbagi video, dan anak dengan mudah mengakses dengan sekali klik. Ada juga yang memanfaatkan ruang-ruang belajar virtual seperti zoom, Google Classroom, Google Meet, ataupun Moodle. initinya guru memanfaatkan peralatan yang ada di internet untuk menyampaikan materi, dan anak menyimaknya.

Belajar Online di Rumah Tidak Hanya Butuh Kuota Internet

Sekilas seperti mudah melaksanakan belajar online dari rumah bagi anak sekolah. Asala punya kuota internet dan jaringan atau sinyal yang bagus, beres. Ternyata kenyataannya kuota internet saja tidak cukup, butuh beberapa hal lain supaya belajar daring bisa terlaksanan dengan baik.  Misalnya, mood yang baik pada anak, konsentrasi yang fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung, kondisi kesehatan yang baik dan suasana yang mendukung. Bayangkan saja misalnya di ruangan di mana anak sedang mengakses kelas virtual, di situ televisi menyala, orang tua sedang sibuk membicarakan pekerjaan dengan kolega, sementara adik bayi merengek ingin ikut bermain gadget. Kondisi yang berbeda-beda pada tiap keluarga akan memengaruhi lancar tidaknya belajar virtual. Dari sini baru akan terasa beberapa hal kekurangan belajar online.

Antisipasi Kekurangan Belajar Online di Rumah

Beberapa Kekurangan yang ada tidak bisa kita hindari. Dalam kondisi yang sangat tidak biasa, mau tidak mau kita harus maklumi kekurangan yang terjadi di sana-sini. Untuk menuntut pada sekolah atau penyelenggara sekolah online (atas kekurangan yang ada) sudah pasti bukan tindakan yang bijaksana. Kalau mau jujur, sekolah juga pasti lebih memilih belajar secara langsung, dengan cara tatap muka. Guru-giri juga pilih menjelaskan secara langsung kepada anak di kelas daripada harus membuat konten youtube sebagai materi belajar.

Salah satu yang hilang dari sistem belajar anak-anak kita adalah hilangnya interaksi antara murid dan guru. Interraksi ini tidak hanya memperlancar proses transfer ilmu, tetapi juga membentuk bonding. Bonding yang baik anatara guru dengan siswa akan menambah kepercayaan diri siswa. Kepercayaan diri bahwa mereka memiliki guru andal yang siap membekali dengan ilmu, juga kepercayaan diri bahwa jika ada kesulitan ia akan dengan mudah dibantu guru. Kekurangan ini bisa disiasati dengan membuat group kecil dari kelas yang ada, dan membuat interaksi rutin untuk menampung keluhan dan semacan ruang tanya jawab. Group interaktif ini bisa dibuat dengan whatsapp video call yang bisa dilaksanakan untuk 7 pengguna (1 guru, 6 siswa). Dengan group kecil ini diharapkan kesulitan belajar online lebih mudah diatasi. Sementara jika menggunakan group besar seperti yang jamak dilakukan dengan zoom atau google meet, bisa jadi masih ada permasalahan yang belum muncul, atau sudah muncul tapi tak terdengar atau tak kebagian waktu untuk mengadu.

  • Menyiasati Agar Tidak Boros Kuota Internet

Seringkali pada satu sesi pertemuan virtual, waktu habis untuk mengurusi hal-hal teknis atau non teknis yang kurang penting. Giliran membahas masalah penting, kuota sudah menipis dan jarigan timbul tenggelam. Caranya, penyelenggara belajar online di sekolah dalam hal ini guru-guru harus bisa mengatur meet atau zoom dengan seefektif dan seefisien mungkin. Dengan demikian kelas online berjalan lancar dan materi tersampaikan dengan baik. Siswa yang belum paham bisa langsng bertanya dan mendapatkan jawaban.

Tips lain untuk soal boros kuota internet ini adalah mengontrol penggunaan gadget oleh anak. Orang tua tentu bisa mengarahkan anak untuk menggunakan ponsel atau laptop untuk mengikuti kelas online terlebih dulu. Dengan demikian pada jam belajar anak-anak masih memiliki kuota penuh. Sisanya, bisa digunakan untuk bermain game atau mengakses hal lain diluar pelajaran. Kecepatan dan jaringan yang kurang bagus tidak masalah, kan? yang penting urusan sekolah lancar dulu, lah.

  • Sulit mengontrol perkembangan siswa

Berjarak dengan siswa tentu menyulitkan guru untuk mengukur kemampuan anak. Bagaimana kemampuan ketika pertama kali masuk kelas, selama mengikuti kelas online dan setelah mendapat penjelasan materi dari guru. Untuk mengatasi kekuarangan belajar online dari sisi ini, mau tidak mau harus menggandeng orang tua siswa sebagai co-teacher. Saat ini, kontrol anak sepenuhnya ada pada orang tua, maka kerjasama yang baik antara guru  di sekolah dengan orang tua di rumah menjadi salah satu kunci keberhasilan sekolah daring.

  • Sulit mengukur kemampuan siswa sebenarnya

Mengerjakan tugas mandiri secara online dengan mengisi fornulir tentu menjadi salah satu kekurangan belajar online. Di sini kejujuran anak sangat dibutuhkan. Hasil yang apa adanya sesuai kemampuan siswa akan bisa membantu guru mengatahui apakah anak sudah paham dengan pelajaran yang disampaikan. Sayangnya masih ada sebagian orang tua yang masih fokus pada nilai sebagai pencapaian hasil prestasi belajar anak. Padahal jika benar-benar diuji, kemampuan sebenarnya bisa saja berbeda.

Penutup

Ini sih pendapat saya, ya. Bahwa fokus kita saat ini sebaiknya bukan pada prestasi belajar anak. Kondisi yang sangat tidak biasa ini mendorong saya untuk memilih membelaki anak dengan kemampuan surviving dan lifeskill. Satu lagi yang lebih utama adalah memanfaatkan waktu anak-anak yang sepanjang hari di rumah adalah untuk memperbaiki kualitas ibadah mereka. Kini saatnya orang tua mengecek ulang apakah gerakan sholat dan wudhu sudah tepat, apakah mereka hapal bacaan sholat, dan lain-lain. Yang tidak boleh dilupakan adalah menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk membuat jalinan emosional yang kuat dalam satu keluarga. Saling menyayangi, saling mendukung dan saling membantu, supaya meskipun sepanjang hari di rumah, semua anggota keluarga tetap bahagia. Rasa bahagia inilah yang akan meningkatkan imunitas tubuh dan memacu semangat untuk melawan pandemi ini.