Lomba Review Teknologi

Dompet Digital, Bekal Gaul Anak Milenial

QR Code
QR Code
foto QR Code oleh Gert Alman (Pixabay.com)

"Alamak, dompetku ketinggalan!, gimana ini?” Seru Vina pada kedua sahabatnya, Windy dan Jenny. Tiga dara ini janji beretemu di food court sebuah mall di kota Solo, selepas jam kantor. Windy, salah satu karyawan BUMN di Jakarta, sedang ada tugas di kota tempat ia menimba ilmu di bangku kuliah dulu. Sedangkan Vina dan Jenny, memang tinggal di kota budaya tersebut. Windy punya sedikit waktu untuk bertemu kedua sahabatnya ini, sebelum melanjutkan perjalanan dinas ke kota berikutnya. Vina,  saat ini melanjutkan kuliah S2 di kampus yang sama, sedangkan Jenny adalah olshopper batik yang cukup sukses. 

            “Tenang, aku yang bayar nanti” Windy berusaha menenangkan. 

            “Udah.., bukan masalah. Nggak bawa dompet asal bawa handphone, kan beres!” sahut Jenny sambil menunjukkan gawainya. 

            “Haha, iya lah, di situ kan ada dompet digital. Praktis, mudah, dan aman.” Vina menimpali. “Nggak perlu gesek kartu, apalagi tulis nota, cukup pakai QR Code saja” tambahnya.

            “Dompet digital, memang pas untuk kaum milenial” seru mereka bertiga, hampir kompak!. 

***

Itulah ilustrasi bagaimana kaum milenial sekarang bertransaksi. Gaya hidup modern dan serba digital makin merambah ke banyak sisi kehidupan, termasuk soal transaksi dan pembayaran dengan dompet digital. Jika dulu berbelanja harus membawa segepok uang, saat ini semua terwakili dengan adanya QR Code.

Apa  itu QR Code?

Lalu apa sih, QR Code? QR berasal dari kata Quick Response. QR Code adalah kode matriks atau barcode dua dimensi, dimana isi kode tersebut dapat diuraikan dengan cepat dan tepat.

Sistem pembayaran dengan QR code pertama kali muncul di Jepang, dikembangkan oleh perusahaan Denso Wave, anak perusahaan Toyota pada tahun 1994. QR Code memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan kode batang biasa. Kode batang biasa satu dimensi, hanya bisa dikodekan dari satu arah saja, dan memiliki kemampuan memuat 20 karakter numerik. Sedangkan QR Code, selain lebih mudah dibaca oleh pemindai, juga mampu menyimpan masukan data dari dua arah, horizontal maupun vertikal. QR Code juga dapat menampung karakter numerik 100 kali lipat lebih banyak dari kode batang.

QR terdiri dari dua jenis, yaitu static QR Code dan dynamic QR Code. Keduanya berisi tautan yang dihubungkan ke halaman web tertentu. Pada Static QR Code, halaman web yang ditujun memiliki konten yang tetap dan tidak dapat diganti. Sedangkan pada dynamic QR Code, berisi URL singkat yang kemudian dihubungkan lagi ke halaman web lain.  Konten pada web ini dapat diganti dan QR Code dapat dipakai terus menerus.

Sederhanya begini, pada static QR Code, ketika transaksi di-scan, pada aplikasi sudah tertulis jumlah nominal yang harus dibayar. Pengguna hanya perlu memasukkan pin saja. Sedangkan pada dynamic QR code, setelah transaksi di-scan, jumlah nominal harus diisi dulu, baru kemudian memasukkan pin.

Graphic QR Code
Graphic QR Code by Canva. Editing: sitaturrohmah.com

Bagaimana Cara Kerja QR Code?

QR Code jika dilihat tampak seperti kumpulan kotak-kotak dengan ukuran tertentu, dan bentuk tertentu pula. Bagaimana hal itu bisa mewakili sebuah transaksi? Pada prinsipnya sama saja dengan dompet berisi uang yang digunakan untuk membayar sebuah transaksi. Hanya saja kali ini dompet dan uangnya bersifat elektronik dan diwakili oleh kode-kode tertentu.

Begini cara kerja QR Code :

  1. Membaca beberapa komponen yang terdapat pada kotak kode
  • Terdiri dari 3 kotak besar pada tiap sudut yang berarti sebagai pembatas kode
  • Pada bagian tengah terdapat beberapa komponen yang merupakan kode yang mewakili pola waktu, data informasi, dan nomor-nomor versi.
  1. Scanner membaca kode-kode pada area tersebut dan memrosesnya, sehingga QR Code berfungsi.
  2. Pengguna memasukkan pin “dompet elektronik”.
  3. Uang pada dompet elektronik terpotong sejumlah transaksi.
  4. Merchant menerima pemindaha uang elektronik.
  5. Transaksi berhasil dan pengguna berhak atas barang yang dibeli.

Sederhana dan mudah dipahami, kan? Yap! Perlu diingat juga bahwa transaksi dengan QR Code ini hanya tersedia atau dilayani di merchant-merchant yang sudah bekerjasama dengan penyedia layanan dompet elektronik.

Cara Kerja QR Code
Cara kerja QR Code (Sumber Foto : Pixabay)

QR Code di Indonesia

Jika tadi kita ketahui bahwa yang pertama kali mengenalkan cara pembayaran dengan QR Code adalah Jepang, lalu bagaimana dengan Indonesia?

Sampai saat ini, penggunaan QR Code sebagai bentuk dari pembayaran digital masih belum dipakai oleh semua merchant. Meskipun sebenarnya sudah sejak tiga tahun terakhir ini banyak bermunculan aplikasi pembayaran digital. Contohnya Gopay, Ovo, Dana, LinkAja, BebasBayar, BCA Sakuku, CIMB GoMobile, dan banyak lagi yang lain. Sampai saat ini, di Indonesia sudah ada sekitar 26 penyelenggara layanan pembayaran digital berbasis QR Code. Jumlah ini tentu saja akan terus bertambah seiring  dengan perkembangan teknologi di Indonesia.

Untuk penggunaan QR Code ini, Indonesia memiliki standar QR Code sendiri yang dinamai QR Indonesia Standar (QRIS) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Dengan demikian, semua transaksi QR Code di Indonesia wajib mengacu pada aturan Bank Indonesia. Untuk memudahkan pelaksanaannya, Bank Indonesia telah bekerjasama dengan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI).

Bank Indonesia, meluncurkan QRIS pada tanggal 17 Agustus 2019 yang lalu. Rencananya penggunaan QRIS akan berlaku efektif di seluruh indonesia mulai 1 Januari 2020  mendatang.

Menurut m.bisnis.com, perkembangan pembayaran digital di Indonesia maju pesat. Tahun 2018 nilai transaksi digital (non tunai) di Indonesia tercatat sebesar Rp.47,2 triliun atau sekitar US$3,4 miliar. Jumlah ini meningkat 4 kali lipat dari perolehan tahun 2017. Bahkan, berdasarkan hasil survey AlphaWise dan Morgan Stanley yang dipublikasikan pada Pebruari 2019, diproyeksikan akan mencapai US$50 miliar pada tahun 2027.

Pembayaran non tunai di Indonesia, saat ini paling banyak digunakan untuk pembayaran jasa transportasi, pemesanan makanan, dan pembelian pulsa atau paket data internet.

dompet digital
dompet digital (Sumber Foto : Pixabay.com)

Plus Minus Transaksi dengan QR Code Standar

Perubahan dan perkembangan adalah kepastian seiring dengan makin majunya zaman. Untung –rugi dari tiap perubahan pasti akan tetap ada.

Saat ini orang mungkin akan lebih nyaman dan merasa aman jika membawa uang jutaan bahkan milyaran dalam sebuah kode khusus saja. Sementara orang zaman dulu harus membawa berkarung-karung lembaran atau kepingan uang untuk nilai yang sama. Bayangkan juga seandainya membeli mobil dengan uang tunai. Kasir akan membutuhkan banyak waktu untuk memastikan pembeli membayar dengan jumlah yang sesuai dengan kesepakatan. Sementara dengan QR Code, hanya dalam hitungan detik uang dapat berpindah tangan.

Sementara itu, transaksi dengan QR Code belum sepenuhnya bisa dilaksanakan. Alasannya adalah keterbatasan gerai atau merchant yang terhubung atau berafiliasi dengan penyedia jasa pembayaran elektronik. Sampai saat ini, harus diakui penjualan ritel tradisional masih mendominasi pasar ritel di Indonesia. Berdasarkan data Nielsen, 72,1% penjualan ritel terjadi pada ritel tradisional. Sisanya baru masuk ke mini market (21,7%) dan supermarket (6.2%).

Kedepan, tentu saja diharapkan penggunaan QR Code untuk pembayaran transaksi elektronik mampu menjangkau semua tempat di Indonesia.

 

***

“Udah, nih kamu pesan minum doang? Tanya Windy pada Vina. Sementara dia sendiri memesan nasi liwet lengkap. Makanan khas Solo ini selalu membuatnya rindu akan suasana pagi di kampusnya dulu. Ia ingat penjual nasi liwet yang mangkal di samping pintu gerbang kampus. Sepincuk [piring dari daun pisang] nasi gurih dengan sayur labu dan suwiran ayam [potongan lembut dengan tangan] cukup membuatnya berenergi sebelum berkutat dengan diktat. 

“Aku makan selat segar aja, ah.   Belum terlalu lapar, nih” kata Jenny mendekati keduanya.

Lalu bertiga mereka meuju kasir food court untuk membayar sebelum gerai makanan mengantar pesanan mereka. Windy yang tadi berjanji meneraktir kedua sahabatnya mendekati kasir dan menyampaikan kalau ia  akan membayar dengan dompet elektronik. 

“Bisa mbak” jawab kasir sambil tersenyum. 

Windy pun menyerahkan gawainya, kasir mendekatkannya pada scanner. Dalam hitungan detik transaksi selesai dan kasir menyerahkan bukti pembayaran. 

Tiga dara bersahabat sejak masa kuliah inipun melanjutkan obrolan ringan mereka, seringan dan semudah transaksi yang baru saja mereka selesaikan.  

 

#feskabi2019

#gairahkanekonomi

#pakaiQRstandar

#majukanekonomiyuk

 

Referensi :

  1. https://www.jaringanprima.co.id/id/mengenal-qr-code
  2. https://finance.detik.com/moneter/d-3895398/canggih-transaksi-pakai-qr-code-cuma-2-detik
  3. https://finansial.bisnis.com/20190527/90/927859/standar-nasional-qr-code-masuk-tahap-pilot-project-kedua

About Author

Freelance writer

(29) Comments

  1. dompet digital? apakah itu sebuah kemajuan model pembayaran saat ini? ya benar sekali. tapi tidak muamlaah dalam islam. QR kode hanya berupa angka-angka. sedangkan dalan transaksi jual beli yang menggunakan uang real nya adalah menggunakan uang. dimana nilai dari uang itu melekat pada ruh uang tersebut.
    maaf ya jika pendapat saya terbali dengan tulisan blog mbak

    1. adm@sita says:

      it’s okay mbak. saya terbuka untuk perbedaan pendapat. sejujurnya ini hanya dalam frame umum saja. Saya belum berani mengangkat dari sisi kajian agama, meskipun seharusnya setiap permasalahan itu harus dirinut kesana. terimakasih masukannya, mbak. Ada benarnya juga pendapat mbak Zila.

  2. Wah menarik nih, sekarang lebih mudah transaksi dengan dompet virtual seperti ini, walaupun aku sendiri pemakai dompet virtual, aku juga selalu bawa dompet beneran dan bawa uang cash… hehe, iya, tipe hybrid aku tu perpaduan kuno dan modern, hihihi

  3. Hmm… sejujurnya makin mudah pembayaran dengan QRcode ini makin boroslah akuuuu, ngga kuat liat promo cashbacknya hahaha

  4. Semakin maju zaman, semakin praktis segala sesuatunya. Termasuk urusan pembayaran. Meski tetap didalamnya mengandung segala plus minusnya ya mba..

    Thanks for sharing, jadi paham seperti apa kerja QR code untuk pembayaran

  5. Yup. Skg makin dimudahkan walau ketinggalan dompet. Dunia dalam genggaman.

  6. Wiwin | Pratiwanggini.net says:

    Betul sekali. Jaman sekarang ga bawa dompet gapapa, yang penting bawa HP. Budaya cashless sudah makin diminati 🙂

  7. Memang zaman sekarang semua serba mudah & praktis ya Mbak. Kalau mau pergi belanja nggak perlu repot bawa uang segepok ya hehe.. tinggal scan-scan aja, tapi memang masih belum banyak juga merchant/gerai2 yg menyediakan jasa digital payment

  8. Denik says:

    Wah, aku baru tahu sejarahnya. Terima kasih Mba untuk ulasannya. Sangat bermanfaat. Saya malah punya aplikasinya. Tapi baru tahu sejarahnya.

  9. Rika Widiastuti Altair says:

    Semakin memudahkan ya dengan hadirnya teknologi transaksi seperti ini. Tapi sampai saat ini aku masih nyaman kemana-mana bawa tunai. Bahkan traveling-pun suka bawa tunai. Karena selain jumlah yg kubutuhkan untuk transaksi dan kebutuhan selama traveling nggak banyak, serta sudah di kalkulasi budgetnya🙂. Dan aku sependapat dengan mbak Zila, karena sistem ini tidak muamalah dalam Islam. Dan ini jadi satu diantara alasan aku nggak pake ini sistem pembayaran sejenisnya🙂🙏

    1. Ya mbak, monggo aja jika punya pendapat yang menolak dompet digital. saya sekadar menulis kemudahan yang ditawarkan, ya. terimakasih komentarnya

  10. Praktis sekali ya, enggak perlu bawa segepok uang dan bisa wisata kuliner bareng teman dengan dompet digital

    1. betul, kalau bayangin bawa segepok tu kayak bakal berat dan was was juga, gitu. kalau bawa dompet digital kita hanya bawa alat untuk mengakses saja, ya?

  11. Penggunaan QR Code memang memudahkan dan mempercepat transaksi pembayaran

    1. ya, mbak begitulah majunya perkembangan zaman

  12. Sip. Saya pun pemakai dompet digital walaupun tidak sering. Pernah lah. Memang memudahkan hidup kita, kok. Kalau baca komen di atas tentang sisi syariah, setahu saya boleh kok. Pernah baca tulisan seorang ulama tentang ini. Mungkin ada yg berbeda pendapat, bisa-bisa saja sih karena ini masuk ke ranah kontemporer 😉

    1. iya, mbak ada yang setuju ada yang tidak. kembali kepada keyakinan masing-masing. kalau dijabarkan bisa satu postingan blog ya mbak? #dapatide

  13. Erin says:

    Pakai QR memang membantu untuk pembayaran digital. Aku lebih sering pakai Ovo, karena banyak toko yang sudah join jadi praktis tidak perlu bawa uang cash banyak

  14. Mbak, aku termasuk pemakai setia dompet digital dan sudah memanfaatkan QR Code untuk pembayaran. Praktis dan ekonomis. Enggak ribet bawa uang tunai dan pengeluaran pun bisa terencana

  15. Mbak Sitatur, sukaaaaa banget sama dompet digital ini karena ya udah kita cuma butuh hp aja untuk bisa melakukan banyak hal termasuk shopping dan bayar ini itu.

    1. nah, iya kan? nggak perlu bawa kresek besar untuk naruh uang kalau mau beli mobil, haha cukup bawa HP dengan uang digital di dalamnya

  16. saya juga lebih suka pakai qr code untuk pembayaran makanan di outlet. sebab ada diskon. lebih murah kan jatuhnya

    1. betul, sering ada potongan harga kalau kita bayar transaksi pakai QR code

  17. Saya belum mencoba kecanggihan ini, masih pakai dompet dan kartu2 biasa aja Mbak. Seru juga ya, pakai dompet digital.

    1. saya udah coba, mbak. kalau saya sangat terbantu, tetapi tetap butuh dompet real dengan lembaran uang. karena memang belum semua menggunakan transaksi digital

  18. Bener banget, apalagi pembayaran non tunai via aplikasi sering ada bonus cashback nya

    1. bonus cashback ini terkadang jatuhnya lebih murah ya mbak. asal kita terkontrol dalam penggunaannya insyaallah

  19. Saya salah satu pengguna setia beberapa dompet digital. Bahkan saat ini beberapa penyedia layanan hosting di Indonesia sudah mendukung pembayaran menggunakan dompet digital. Lumayan juga, kadang dapet cashback. Hehe

  20. […] Baca juga : Dompet Digital, Bekal Gaul Anak Milenial […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *